Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Agustus 2010

Menhan: Indonesia Segera Bikin Kapal Selam Tempur



TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -
Guna memperkuat armada tempur untuk menjaga kedaulatan NKRI serta menjaga perbatasan RI dengan negara lain, khususnya menyikapi hubungan yang kian memanas dengan Malaysia, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan segera membuat kapal selam tempur. Kapal selam tempur tersebut akan menjadi yang pertama kali dibuat di Indonesia.

Setelah berhasil membuat kapal perang terbesar se-Asia Tenggara dengan dilengkapi peralatan tempur canggih, kini Kementerian Pertahanan mulai serius mempersiapkan rencana pembuatan kapal selam yang merupakan alat tempur bawah laut tersebut. Bahkan, Purnomo menjadwalkan kapal tempur dasar laut tersebut akan rampung pada tahun ini.

"Pada tahun ini kami akan deklarasikan untuk membangun kapal selam di Indonesia. Kami akan bekerja keras mewujudkannya. Saya, Wakil Menhan, segenap Sekjen, Dirjen di lingkup Kemenhan saat ini sedang mencari satu program, satu master plan bagaimana kami bisa membangun kapal selam di Indonesia," ujar Purnomo saat memberikan sambutannya dalam acara buka puasa bersama di kantornya. Selasa (31/8/2010).

Purnomo juga menjelaskan, hingga saat ini produk-produk hasil industri pertahanan dalam negeri yang terus dikembangkan sudah mendapat respons positif dunia internasional. Karena selain untuk memenuhi kuota persediaan peralatan tempur dalam negeri, peralatan serta kendaraan tempur yang diproduksi nasional juga dipasarkan ke negara lain.

Beberapa produk seperti helikopter, pesawat tempur, hingga kapal tempur teknologi canggih serta persenjataan lainnya juga kerap mendapat pujian negara-negara lain. "Beberapa hasil industri pertahanan hingga saat ini memang terus kami pasarkan ke luar negeri," ujar Menhan.(*)

Penulis : alie_usman
Editor : Juang_Naibaho

Minggu, 22 Agustus 2010

Pemerintah Indonesia dan India Jalin Proyek Kerja Sama Bidang Antariksa

Pemerintah Indonesia dan India Jalin Proyek Kerja Sama Bidang Antariksa

Skema Spaceport Ideal Untuk Wahana Ruang Angkasa

Bogor - Pemerintah Indonesia dan India menjalin proyek kerja sama dalam bidang antariksa. Pembentukan komite bilateral tersebut adalah wujud implementasi dari proyek kerja sama bidang teknologi dan aplikasi antariksa. Kedua tim komite hadir di Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, pertengahan Agustus ini.

Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia mengajukan permohonan kepada India untuk memindahkan kepemilikan stasiun TT & C Lapan-ISRO (Lembaga Antariksa India) di Biak, Papua, kepada Indonesia. Kesepakatan tersebut tertuang dalam Rapat Komite Kerja Sama Indonesia dan India yang digelar di Bali, yang ditandatangani Sekretaris Utama Lapan Bambang Koesoemanto dan Direktur ISTRAC (Jaringan Komando dan Tracking ISRO SK Shivakumar.

Keinginan Indonesia tak langsung diamini. Sebab proses perpindahan kepemilikan harus dilakukan di level pemerintahan, yang memakan proses diplomasi antarpemerintah selama dua bulan. Bila disetujui, India akan menyiapkan proposal persetujuan untuk perpindahan stasiun TT & C tadi.

Sejalan dengan proses perpindahan kepemilikan satelit, India meminta Indonesia mengembangkan kerja sama di beberapa bidang kedirgantaraan. Di antaranya meliputi identifikasi tempat pembangunan antena TT & C satelit baru dengan ketinggian 40 meter di Biak, pengoperasian stasiun bumi satelit yang dapat dipindahkan, perolehan data satelit penginderaan jauh IRS, Cartosat, dan Oceansat-2.

(Sumber : Liputan 6)

Rabu, 09 Juni 2010

Menara Tertinggi di dunia Ada di Kemayoran Jakarta

menara tertinggi
Perbandingan dengan menara-menara lainnya di dunia:
1. Jakarta Tower (558m) Jakarta, Indonesia
2. Canadian National Tower (553m) Toronto, Kanada
3. Menara Ostankino (540m) Moskow, Rusia
4. Oriental Pearl Tower (468m) Shanghai, Cina
5. Petronas Tower (452m) Kuala Lumpur, Malingsia



Menara seharga Rp.3 Trilyun ini dijadwalkan akan selesai pembangunannya pada tahun 2012.

Menara Jakarta ini sedang dibangun di atas lahan seluas 5.3 Hektar di daerah Kemayoran, Jakarta
Di lengkapi dengan tempat parkir seluas 144.000 m2, cukup untuk 20,000+ mobil.


5 Konglomerat yang menyediakan dana proyek:
35% = Prajogo Pangestu (PT. Tri Polyta Indonesia)
20% = Abraham Alex Tanuseputra (PT Charana)
15% = Jakob Oetama (Kompas-Gramedia)
15% = Sohat Chairil (PT Pasir Putih)
15% = Harun Sebastian (PT Inti Multijaya)

Developer: Steven Tan Lip Goen (PT. Prasada Japa Pamudja)

Para pekerja yang berani membangun gedung pencakar langit itu memang nyalinya besar-besar.

- nkri-nkri.blogspot -

Rabu, 26 Mei 2010

Lapan Siapkan Lokasi Uji Coba Peluncuran Roket RX-550 di Pulau Enggano

Roket LapanJakarta - Dengan mempertimbangkan faktor keamanan saat peluncuran roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional akan memindahkan tempat peluncuran wahana antariksa tersebut ke Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Untuk tujuan itu telah ada persetujuan dari pemerintah daerah setempat.

Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun hari Selasa (25/5) mengatakan, pemindahan itu juga dilatarbelakangi kondisi sekitar lokasi peluncuran yang lama yang berada di daerah Pamengpeuk, Provinsi Jawa Barat. Pamengpeuk kini telah padat menjadi daerah permukiman.

”Pemindahan itu berkaitan dengan rencana Lapan untuk meluncurkan satelit yang berukuran lebih besar, yang memerlukan zona aman atau bebas yang lebih luas,” kata Adi.

Perairan bebas

Pulau Enggano yang terletak di selatan perairan Provinsi Bengkulu relatif lebih aman karena di arah selatan menghadap perairan bebas. Namun, Adi juga melihat ada faktor yang kurang menguntungkan di pulau itu, yaitu aktivitas kegempaan di pulau kecil itu tergolong tinggi.

Karena itu, peluncuran roket akan menggunakan kendaraan peluncur roket atau satelit (satellite launch vehicle/SLV).

”Pembuatan roket akan dilakukan di Pusat Pembuatan Roket di Pulau Jawa,” kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan Bambang Tedjasukmana. Untuk transportasi SLV dan roket itu Lapan akan bekerja sama dengan mitra terkait yang memiliki sarana kapal memadai.

Adi mengharapkan, lokasi peluncuran roket dari pulau tersebut sudah dapat terlaksana tahun depan. Rencananya, akan diluncurkan roket eksperimen berdiameter 550 mm. Akhir tahun ini direncanakan RX-550 akan menjalani uji statik.

Untuk mengarah pada peluncuran roket berkapasitas menengah itu, lanjut Bambang, akan dilakukan peremajaan prasarana yang ada, antara lain, yaitu mesin pembuat bahan bakar roket. Selama ini yang dilakukan hanya sebatas memodifikasi peralatan yang telah usang.

Menurut Adi, proses pembuatan bahan bakar roket atau propelan merupakan kunci yang menentukan unjuk kerja roket ketika diluncurkan, terutama terhadap daya dorongnya.

Terkait dengan peluncuran roket tersebut, lanjut Adi, Lapan mengalokasikan sebagian besar dana untuk pembangunan fasilitas peroketan dan sisanya untuk mempersiapkan peluncuran satelit kembar Lapan A-2 dan Lapan A-3 yang menggunakan roket Indian Space Research Organization (ISRO) dari India. Peluncuran akan dilakukan tahun depan.


Kompas

Minggu, 20 Desember 2009

RX520 Siap Terbang Akhir 2010


Roket RX-420. (Foto: LAPAN)


20 Desember 2009 -- Teknologi roket buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengalami kemajuan pesat.Setelah sebelumnya meluncurkan RX320 pada 2008, kini berhasil meluncurkan RX420.

Sukses mengembangkan RX420, bukan lantas Lapan berpuas diri. Akhir tahun ini, Lapan kembali mendesain RX520. Roket yang lebih besar dan memiliki daya jangkau lebih jauh dibanding RX420.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Soewarto Hardhienata mengatakan, RX520 siap terbang akhir 2010. RX520 ini memiliki spesifikasi yang lebih hebat ketimbang RX420.Sesuai desain awal,RX520 memiliki kecepatan maksimal 1,7 km/detik. RX520 ini memiliki panjang hingga 8,8 meter dengan bahan bakar propelan padat seperti jenis roket lain.

“Daya jangkau roket RX520 mencapai 200 km.Ini lebih jauh dua kali lipat dibanding RX420,” ujar Soewarto kepada Seputar Indonesia. Hanya saja, teknologi roket yang dikembangkan Lapan tidak untuk kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Roket buatan Lapan hanya untuk keperluan sipil yang akan digunakan sebagai penunjang dalam mengorbitkan satelit.

Untuk diketahui, Kamis (2/7), Lapan berhasil meluncurkan RX420,roket terbesar yang dibuat lembaga antariksa Indonesia. Roket RX-420 adalah roket dengan diameter 420 mm,panjang 6 m dan berbobot 1 ton. Roket ini menggunakan bahan bakar solid-komposit yang ketika diluncurkan ke angkasa memiliki jangkauan 100 km dengan kecepatan hingga 4,5 mach atau 4,5 kali kecepatan suara.

Saat peluncuran,roket eksperimen RX420 berdiri dengan sudut elevansi 70 derajat di lapangan desa Cilautereun Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut.Tak beberapa lama,suara roket menderu, diiringi kepulan asap putih membumbung. Hanya dalam hitungan detik,roket melesat ke angkasa. Lapan sendiri konsentrasi dalam pembuatan roket untuk keperluan sipil. Nantinya roket-roket buatan Lapan tersebut akan digunakan sebagai penunjang dalam mengorbitkan satelit milik Indonesia.

“Kapasitas roket buatan Lapan memang untuk keperluan sipil. Jadi kami fokus dalam membuat roket untuk mengorbitkan satelit,”tandasnya. Meski demikian, teknologi roket yang dibuat Lapan ini sudah bisa dikembangkan untuk membuat senjata pelindung alutsista. Jika Departemen Pertahanan (Dephan) mau mengadopsi teknologi yang dimiliki Lapan sebagai roket berhulu ledak, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi satu kekuatan yang ditakuti oleh bangsa-bangsa lain.

Soewarto sendiri secara terbuka menerima jika Dephan ingin bekerja sama mengembangkan dalam pembuatan rudal balistik dengan jangkauan yang lebih jauh.Untuk saat ini,sesuai dengan tugasnya, Lapan hanya membuat roket untuk keperluan sipil.Teknologi roket yang dikembangkan Lapan, pada dasarnya merupakan dual use, di mana bisa dipakai untuk keperluan sipil maupun militer.

Namun, Lapan sendiri hanya mengembangkan roket untuk keperluan sipil karena sesuai dengan kewenangannya. Sementara itu, jika untuk keperluan militer diserahkan kepada Dephan. “Kami memang pernah bekerja sama membuat roket kaliber 122 untuk TNI AL, tapi kewenangan dari Lapan sejatinya bukan itu. Kami hanya mengembangkan roket pendorong untuk satelit.Untuk keperluan militer, biar Dephan yang bicara,”paparnya.

Jika saja Lapan dan Dephan bersinergi membuat rudal balistik memakai RX520, bukan tidak mustahil rudal tersebut mampu menjadi senjata yang takuti. Dengan daya jelajah mencapai 200 km,senjata balistik ini akan mampu melindungi pulau-pulau di Indonesia.Bahkan jika peluncuran di lakukan di Batam, bukan tidak mustahil bisa menembus hingga Malaysia dan Singapura. Ketua Pokja Pertahanan Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengatakan Indonesia memang sudah saatnya memiliki rudal berhulu ledak buatan sendiri.

Teknologi yang dimiliki Lapan, sudah bisa dipakai untuk membuat rudal balistik jarak menengah.“Indonesia harus mandiri. Dephan harus bekerja sama dengan Lapan membuat rudal berhulu ledak,”tuturnya. Tubagus mengatakan, keberhasilan Lapan menguji coba roketroketnya membuat Indonesia semakin ditakuti. Roket buatan Lapan tinggal dibekali hulu ledak di ujungnya dan menciptakan direksi untuk mengarahkan koordinat sasaran.

“Sebagai negara kepulauan,tentu dibutuhkan rudal yang mampu melindungi pulau-pulau tersebut dari serangan musuh,”lanjutnya. RoketbuatanLapanmerupakan teknologi hasil ciptaan ilmuwan Indonesia. Lapan bahkan menciptakan bahan bakar racikan ilmuwan Indonesia yang tak kalah dibanding buatan ilmuwan luar negeri. Bahan bakar racikan ilmuwan Lapan tersebut bahkan telah diuji coba di rudal exocet TNI yang tak terpakai. Hasilnya, kecepatan rudal menjadi 2 kali lipat dibanding kecepatan dengan menggunakan bahan bakar rudal asal Prancis.

Amunisi Kaliber Besar

Sementara itu, PT Pindad sudah menguasai teknologi untuk amunisi kaliber kecil.Tahuntahun mendatang, PT Pindad akan mengembangkan amunisi kaliber besar. Menurut juru bicara PT Pindad Timbul Sitompul, amunisi kaliber 20 mm dan kaliber 120 mm telah dilakukan pengembangannya pada tahun 2009 ini.Kemudian pada 2010, PT Pindad merencanakan akan memproduksi amunisi kaliber 105 mm.

Selanjutnya pada 2011, akan dikembangkan warhead dan rudal dengan mode proximity fuse. Proximity fuse menyebabkan kepala rudal akan meledak pada jarak yang telah ditentukan dari target. Teknologi proximity fuse ini menggunakan kombinasi dari satu atau beberapa sensor di antaranya radar, sonar aktif, infra merah, magnet, foto elektrik.Tidak hanya itu,PT Pindad juga merencanakan akan memproduksi rudal darat pada tahun 2012 mendatang.

Sabtu, 12 September 2009

LIPI Luncurkan Radar Produk Dalam Negeri ISRA (Indonesian Sea Radar)


LIPI Luncurkan ISRA, Radar Pantai Buatan IndonesiaSUBANG - Indonesian Sea Radar (ISRA) radar pengawas pertama milik Indonesia hasil ciptaan para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akhirnya diluncurkan. Ini merupakan radar yang dapat digunakan untuk membantu pengaturan transportasi laut dan udara, pengamatan cuaca, pemetaan wilayah, serta navigasi.

“Selain itu dapat digunakan untuk aplikasi pertahanan keamanan (militer) seperti pemandu rudal dan pengunci sasaran,” ucap Kepala LIPI Prof. dr. Umar Anggara Jenie saat peluncuran radar tersebut yang merupakan bagian dari peringatan hari ulang tahun LIPI ke-42 di Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG) LIPI Subang, Jawa Barat. Ikut hadir dalam acara para pejabat LIPI.

Prof. Umar mengatakan, radar ISRA merupakan bukti bahwa tenaga ahli dalam negeri mampu membuat peralatan dengan teknologi tinggi. “Ini mendukung kemandirian membuat alat-alat strategis. Belum lagi prosedur pembelian radar luar negeri sulit dan harganya mahal,” jelasnya.

Kepala Bidang Elektronik dan Telekomunikasi LIPI dr. Mashury Wahab mengatakan, penelitian untuk membuat radar tersebut dilakukan selama 3 tahun oleh satu tim berjumlah 20 orang dengan memakan biaya sekitar Rp 3 milyar. Sebelumnya, para peneliti diberikan bantuan oleh pemerintah Belanda untuk pelatihan dasar di Delft University of Technologi the Netherlands yang kemudian diaplikasikan dan dikembangkan di Indonesia.

Radar dengan panjang 2 meter dan lebar 1 meter, berat sekitar 200 kg, serta jangkauan deteksi hingga 64 km tersebut, paparnya, telah menggunakan teknologi Frequency-Modulated Continuous (FM-CW) yang konsumsi daya listrik lebih rendah dan ukuran radar lebih kecil dibanding radar yang digunakan di Indonesia.

“Radar yang digunakan instansi-instansi pemerintah teknologinya ketinggalan, daya (listrik) dan ukurannya juga besar. Kalau radar ISRA biaya operasional dan perawatannya jauh lebih rendah,” ujar dia.

60 persen komponen radar, ungkapnya, masih di impor sehingga menjadi hambatan dalam proses pembuatan karena harus menunggu masuknya komponen.

Uji coba radar sudah dilakukan di Cilegon dengan mendeteksi kapal-kapal yang melintasi selat sunda. Menurutnya, produksi masal untuk radar tersebut diharapkan dapat dilakukan pada 2011 setelah melalui proses penyempurnaan.

“Tahap selanjutnya pada akhir tahun ini, kita akan buat radar mobile yang bisa dibawa kemana-mana. Tahap terakhir tahun 2011 kita akan buat jaringan dengan beberapa radar yang terkoneksi dan bisa dipantau dari pusat tanpa harus ke lapangan,” jelas dia.

Untuk harga jual, lanjut dia, diperkirakan lebih murah 50 persen dibanding radar pesaing dari negara Polandia yang dibandrol Rp 9 milyar.

Radar versi militer

Lebih lanjut Mashury menjelaskan, LIPI sudah ditugaskan oleh Kementrian Negara Riset dan Teknologi untuk membuat radar versi militer dengan teknologi yang sama untuk dipasang di kapal milik TNI AL pada tahun 2010. “Saat ini semua radar di kapal TNI AL masih impor. Hanya radar dan senjata saja memakan 55 persen dari total harga kapal,” ucapnya.

Selain TNI AL, katanya, berbagai pihak mulai tertarik menggunakan radar tersebut seperti Badan Koordinasi Keamanan Laut, Departemen Perhubungan, pihak swasta untuk pengawas pelabuhan, dan beberapa pihak asing. “Di Asia Tenggara cuma kita yang bisa buat (radar),” ujarnya. Source : Kompas

Jumat, 11 September 2009

Pantau Ketahanan Pangan lewat Satelit


Random Images

Satelit tidak hanya sekadar memberikan gambaran mengenai permukaan Bumi. Dengan satelit, upaya ketahanan pangan dapat dilakukan.

Gempa tsunami yang terjadi pada akhir 2004 lalu telah meluluhlantakkan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Lewat satelit, daerah yang terkena hantaman tsunami dapat terlihat dengan jelas.

Satelit telah menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia, salah satu yang menonjol adalah kebutuhan komunikasi.

Telekomunikasi membuat orang yang berada di setiap penjuru dunia dapat menerima informasi dari belahan dunia lain, baik berupa informasi yang berbentuk gambar maupun suara, dalam waktu yang sama maupun berdekatan. Pada perkembangannya, satelit tidak hanya terbatas pada bidang tersebut, satelit dapat memantau bencana alam, gempa bumi, banjir, ataupun kebakaran hutan.

Dan saat ini, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tengah mengembangkan suatu satelit yang sebagai alat untuk menjaga ketahanan pangan. Satelit yang diberi nama Lapan A2 dan Lapan Orari tersebut akan digunakan untuk melihat kondisi pertanian di Indonesia. Dengan satelit tersebut maka akan diketahui siklus tanaman. Salah satu tanaman yang akan menjadi objek pantauan satelit tersebut adalah padi.

Karena tanaman ini identik dengan parameter tanaman untuk menjaga ketahan pangan. Dengan satelit tersebut maka dapat diketahui wilayah yang sedang ditumbuhi padi, wilayah tanaman yang siap panen, ataupun tanah yang belum dilakukan penanaman, terang Toto Marnanto Kadri, Kepala Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara, LAPAN.

Perbedaan warna yang ditampilkan satelit yang kemudian diinformasikan kepada stasiun Bumi menandakan suatu kondisi lahan pertanian tersebut. Dengan satelit itu akan diperoleh informasi mengenai jenis tanaman yang cocok untuk di tanaman di suatu areal tertentu. Selain itu, satelit ini nanti dapat gunakan untuk memantau zona laut, seperti tambak udang. Namun, satelit tersebut tidak dapat digunakan untuk memantau sumber daya alam yang ada di laut.

Tidak hanya dalam bidang pertanian, satelit yang rencananya akan diluncurkan pada 2011 dapat digunakan dalam bidang perkebunan. Seperti, untuk melihat luas perkebunan kelapa sawit maupun dalam bidang kehutanan, kata Toto yang menempuh pendidikan dari Jurusan Fisika, Universitas Indonesia.

Lapan A2

Lapan A2 dirancang sebagai satelit surveilans Bumi atau pengamatan dari jauh dengan peralatan elektronik. Fungsi kamera ini tidak beda dengan kamera CCTV. Lapan A2 digunakan untuk memantau lingkungan Bumi. Supaya dapat memberikan informasi berupa gambar, Lapan A2 dilengkapi dengan kamera Kappa HDTV (High Definition Television). Kamera yang terdapat dalam satelit ini akan mengirimkan gambar seperti layaknya gambar yang tersaji dalam layar televisi.

Berbeda dengan satelit buatan Amerika pada umumnya, Lapan A2 yang rencananya akan diluncurkan di India tersebut memiliki berat 68 kilogram. Sementara, satelit buatan Amerika paling tidak memiliki berat 400 kilogram. Sebagai pemantau Bumi, Lapan A2 dibuat dengan resolusi 5,1 meter dengan luas cakupan tangkapan seluas 9,7 kilometer.

Satelit yang dibuat di negara maju umumnya menggunakan radar untuk menentukan posisi, kecepatan, maupun arah dari satelit. Namun, untuk Lapan A2, navigasi yang dilakukan adalah dengan menggunakan GPS (Global Positioning System). Berbeda dengan radar, satelit yang menggunakan navigasi tersebut dapat dipantau dari negara lain. Sementara dengan GPS, pengendali satelit hanya dapat dilakukan oleh stasiun GPS di Bumi dan tidak dapat diketahui oleh negara lain.

Hanya radar memiliki ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan GPS. Untuk ukuran orbit satelit, Lapan A2 ditempatkan pada orbit yang tidak terlalu tinggi yaitu pada jarak 650 kilometer dari Bumi. Sedangkan orbit satelit yang tergolong tinggi jika satelit tersebut teletak pada jarak ribuan kilometer. Pada kondisi tersebut, satelit akan lebih tenang dan tidak turun dari posisi orbit.

Lapan Orari

Sementara Lapan Orari adalah satelit lain yang tengah dikerjakan LAPAN. Berbeda dengan Lapan A2, Lapan Orari lebih ditujukan sebagai satelit pencitraan, sebab kamera yang digunakan adalah kamera pencitraan atau imaging camera. Sehingga satelit ini dapat memantau objek yang ada di Bumi secara lebih detail, kata Toto. Selain sebagai satelit yang ditujukan bagi ketahanan pangan, Lapan Orari memiliki fungsi utama yaitu sebagai satelit komunikasi. Aplikasinya, satelit ini digunakan sebagai saluran gelombang elektromagnetik pada amatir radio, baik suara maupun data digital.

Seperti halnya Lapan A2, Lapan Orari diletakkan pada ketinggian orbit 650 kilometer dari Bumi. Satelit yang ditempatkan pada ketinggian tersebut memiliki bobot senilai kurang lebih 70 kilogram. Untuk menunjang perannya sebagai satelit pemantau dan pencitraan, Lapan Orari dilengkapi dengan kamera video yang memiliki resolusi sebesar 200 meter dengan cakupan tangkapan satelit seluas 80 kilometer. Sedangkan resolusi kamera pencitraan yang dapat menangkap objek secara detail sebesar 13 meter dengan cakupan tangkapan satelit sejauh 94,9 kilometer. Seperti halnya Lapan A2, satelit ini menggunakan sistem GPS untuk memantau keberadaan satelit di orbit. Pemantauan sendiri akan dikendalikan melalui stasiun yang ada di Bumi.

Sebagai sistem pencitraan atau imager, satelit ini dilengkapi kamera yang menggunakan filter optik khusus supaya dapat mendeteksi objek yang diamati dengan lebih baik. Pengamatan yang dilakukan satelit ini adalah vegetasi atau daratan dengan menggunakan filter optik pada daerah panjang gelombang red, green, dan near infra red. Sedangkan untuk aplikasi pengamatan laut ditambah dengan filter optik blue. Dengan citra-citra tersebut akan diketahui jenis-jenis tanaman atau vegetasi serta luas areanya sehingga dapat digunakan untuk mengetahui luas areal tanaman pertanian dan fase tanamnya.

Namuan sebagai satelit baru, tentu banyak mesti dilakukan pembenahan. Sehingga data yang diperoleh satelit tidak dengan gamblang digunakan begitu saja. Sebab harus dilakukan pengujian kesesuaian antara data-data satelit dan kondisi di lapangan.

Garis Ekuator

Satelit yang dibuat oleh LAPAN berada di dekat garis ekuator atau garis khatulistiwa. Satelit ini beredar mengelilingi Bumi pada orbit ekuatorial inklinasi (kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap orbit Bumi) sekitar enam sampai delapan derajat. Dengan orbit ekuatorial tersebut, Toto mengatakan, maka satelit dapat menjangkau seluruh Indonesia.

Di samping itu, dengan posisinya tersebut, maka satelit ini hanya dapat digunakan oleh wilayah-wilayah yang dilewati oleh garis ekuator dan hanya dapat diakses melalui stasiun Bumi yang menggunakan saluran GPS. Sebab, saluran navigasi yang digunakan adalah GPS. Tanpa saluran ini, informasi yang ditangkap Lapan A2 dan Lapan Orari tidak dapat diakses. Satelit ini dibuat untuk masa dua tahun, tapi umumnya satelit dapat bertahan sampai umur sepuluh tahun.

Satelit yang dibuat oleh lapan tersebut akan melintasi Indonesia setiap 100 menit sekali atau sekitar 13,7 kali dalam sehari. Saat satelit berada di atas wilayah Indonesia, stasiun Bumi dapat memantau perkembangan informasi yang diperoleh satelit tersebut. Pemantauan terhadap satelit tidak harus dilakukan selama 24 jam. Namun pemantauan dapat dilakukan pada malam hari, jika satelit tersebut melintasi Indonesia pada malam hari , Jelas Toto.

Saat ini, Indonesia memiliki beberapa stasiun bumi di antaranya stasiun Bumi yang dimiliki perusahaan telekomunikasi serta stasiun Bumi yang dimiliki LAPAN, di antaranya yang berada di Rumpin (Bogor), Rancabungur (Bogor), serta Biak (Papua). Adanya stasiun Bumi yang berada di berbagai wilayah tersebut membuat data satelit yang melintasi daerah tersebut akan dapat terekam


source : koran-jakarta.com

Kamis, 10 September 2009

Pembacaan Teks Proklamasi



Proklamasi

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Jumat, 17 Agustus 1945 Tahun Masehi, atau 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, atau 17 Ramadan 1365 Tahun Hijriah dibacakan oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

Teks Proklamasi

Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:


Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta

Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.